Ruangan bawah tanah yang sempit dan lembap kini bergemuruh, kepanikan melanda para suku Surya yang sedang berbaris memasuki gerbang dimensi saat empat sosok muncul dari balik bayang-bayang. Rira, Ekar, Rafin, dan satu pria misterius yang tidak dikenali berdiri dengan senjata terhunus di tangan mereka.

Leena melihat mereka mengucapkan kata-kata yang asing di telinganya. Aura mereka mendadak berubah, tidak seperti aura kultivator biasa. Di belakang mereka, samar-samar muncul cermin raksasa tak kasat mata yang tampak seperti gelembung ilusi memantulkan cahaya dari tubuh Leena. Cermin itu memancarkan semburat biru keunguan yang menyatu dengan tubuh keempat penyihir, dan seketika tubuh mereka diliputi aura yang identik dengan kekuatan spiritual Leena.

Leena mundur setengah langkah, dengan tatapan kaget dan tidak percaya. "Rira, Ekar, Rafin... kenapa kalian menyerangku? Ini aku Leena? Apa kamu tidak mengenaliku."

"Nona Leena, mereka berada dalam pengaruh sihir. Berhati-hatilah." seorang penduduk mengingatkan Leena.

"Pengaruh sihir? Rira?" Leena teringat dengan cerita Lala mengenai keanehan Rira yang muncul tiba-tiba dan membuat Kael serta yang lainnya terjebak di ruang dimensi. Dia juga muncul di hadapan Lynx lalu menghilang tanpa jejak. Namun yang membuatnya bertambah kaget ketika merasakan tekanan dari tubuh mereka."Immortal? Bagaimana mungkin?"

Rira tersenyum menyeringai, dia sendiripun tidak menduga jika Leena memiliki kekuatan Immortal dalam waktu singkat. Kini dengan menirunya, mereka memiliki kekuatan yang setara dengan pemilik asli selama beberapa waktu. Sihir ini memiliki batasan, mereka hanya bisa menyalin kekuatan tanpa bisa menggunakan teknik atau jurus orang yang di salin kecuali mereka melihat gerakan orang tersebut sehingga tubuh mereka secara otomatis mengenali teknik yang digunakan dan mereka juga bisa melakukannya.

Tanpa banyak bicara, keempat penyihir itu melesat bagai bayangan. Mereka harus bergerak cepat sebelum Lynx datang membantu Leena. Dalam satu gerakan, Rira meluncurkan lima tombak es raksasa yang berputar cepat, mengarah ke Leena seperti bintang jatuh. Ekar menebas dari kanan dengan pedang gelap di tangannya. Rafin menyerang dari belakang dengan rantai bercabang lima, sementara pria misterius melemparkan puluhan peluru energi berbentuk api hitam yang meledak tanpa suara namun mematikan.

Leena berputar, mengayunkan pedangnya yang dilapisi aura surgawi pemberian Yan Ruyan. Cahaya pedangnya menyapu udara seperti sayatan cahaya petir, memotong tiga tombak es. Dua sisanya dia tangkis dengan perisai energi dari pusaran angin spiritual yang ia panggil di sekeliling tubuhnya.

DUAR!

DUAR!

Ledakan demi ledakan terdengar akibat benturan kekuatan di antara mereka. Sementara di sudut ruangan lainnya, Lynx masih sibuk memindahkan ratusan pasukan Surya yang tidak sadarkan diri ke dalam portal. Ia berulang kali menguatkan dinding batu dengan energi saktinya agar tidak runtuh akibat getaran pertarungan Leena. Meski heran melihat Rira menyerang Leena, namun dia segera menyadari apa yang terjadi dan bisa menghubungkan kejadian yang telah terjadi sebelumnya.

Lynx menoleh sekilas, melihat Leena berputar menghindari dua rantai yang nyaris melilit kakinya. Dengan satu gerakan, Leena melompat ke dinding dan menendang balik ke arah Ekar. Pedangnya menusuk lurus, namun Ekar mengangkat perisai energi dan menahannya, lalu membalas dengan semburan energi gelap dari mulutnya.

Semburan itu meluncur ke arah para penduduk yang belum masuk portal.

Lynx langsung bergerak, mengayunkan tangannya membentuk perisai cahaya raksasa. Serangan Ekar menghantam perisai itu, menimbulkan dentuman keras dan menyebar menjadi pusaran api hitam yang membakar dinding gua.

"Aku harus melindungi ruangan ini hingga mereka semua masuk gerbang!" batin Lynx dengan wajah tegang. Ia tidak bisa menyerang Rira dan yang lainnya secara langsung, karena dia tahu... mereka semua berasal dari suku Surya. Hanya saja, mereka terpengaruh sihir. Lynx percaya Leena mampu menahannya hingga dia bisa memastikan keamanan suku Surya.

Setelah bertarung beberapa saat, meski berhasil melukai Leena, Rira dan tiga rekannya merasa frustrasi.

"Kenapa kekuatan ini tidak cukup untuk menjatuhkanmu?!" teriak Rira, matanya merah menyala. Rira dan rekan-rekannya merasa heran karena mereka berempat bekerja sama dengan kekuatan yang sama dengan Leena namun tidak mampu mengalahkannya. Mereka tidak mengetahui jika kelemahan kutukan sihir mereka terletak kepada jenis energi yang diberikan kutukan. Dengan kekuatan sihirnya, Mira membuat kutukan agar Rira dan pengikutnya yang lain, dapat meniru kekuatan Qi Spiritual lawannya dalam kondisi terkuatnya, sementara dalam tubuh Leena, terdapat kekuatan berbeda yang diberikan oleh Yan Ruyan, kekuatan energi surgawi, qi spiritual yang jauh lebih murni.

Leena tersengal, pakaian yang dikenakannya sobek di beberapa bagian, darah menetes dari bibir dan lengannya. "Rira, Ekar, Rafin, sadarlah. Aku tidak ingin melawan kalian."

Namun Rira, Ekar dan Rafin hanya tertawa dan melanjutkan serangannya. Rira mengucapkan mantra sihir, bait-demi bait mantra yang asing terdengar di telinga Leena, membuatnya dalam sekejap kaku tidak bergerak. Ekar dan Rafin segera melompat dengan kekuatan penuh hendak membunuh Leena dalam sekali serangan menggunakan senjata mereka. Sementara pria misterius melompat ke belakang Leena dan menyerang Leena dengan pukulan telapak berlapiskan qi spiritual immortal.

Duar!!!

Bugh!!!

Suara ledakan dari senjata mereka berdua saat hancur terkena sinar laser tak kasat mata yang keluar dari mata Lynx membuat mereka kaget dan mundur. Sementara sosok satunya lagi terlempar ke dinding karena Lynx meniupnya hingga menimbulkan angin kencang dan menerpa tubuhnya yang menyerang Leena dari belakang.

Leena tidak menyia-nyiakan kesempatan dan melepaskan energinya untuk melepaskan diri.

"AAAAARRRRHHHHH" teriak Leena saat energinya meningkat.

Ruangan mulai retak. Batu-batu jatuh dari langit-langit, mengguncang tanah. Lynx mulai kewalahan, membagi perhatian antara menjaga struktur gua, melindungi penduduk Surya, Memindahkan pasukan yang tidak sadarkan diri dan membantu Leena.

Rira melirik ke arah rekannya dan berteriak. "Kita tidak bisa bertarung leluasa di tempat ini! Aku akan membawa dia ke permukaan!"

Ia segera merapal mantra sihir tingkat tinggi, dan dalam sekejap, formasi melingkar muncul di bawah kaki mereka berlima. Tubuh mereka diselimuti kabut hitam pekat, dan dengan kilatan cahaya, mereka menghilang.

Lynx mendongak dengan kaget. "Leena?!"

Tak ada jawaban. Aura mereka menghilang sepenuhnya.

Lynx mengepalkan tangan. "Sial, kemana mereka membawanya..."

Lynx mencoba merasakan pancara energi Leena dan menemukan posisinya jauh di atas permukaan tanah. Lynx merasa lega dan Ia segera kembali memusatkan fokus, memindahkan sisa prajurit Surya yang masih tidak sadarkan diri ke dalam portal dunia kecil. Tak ada waktu untuk panik. Leena sedang bertarung di atas sana, dan dia... harus menyelamatkan semuanya sebelum mengejarnya.

Di permukaan, angin berdesir kencang. Langit senja memerah keunguan ketika kelima sosok muncul mendadak di atas hamparan batuan karang yang mengelilingi hutan. Leena terhuyung, matanya melebar karena perubahan tiba-tiba itu.

Matanya segera memandang ke sekitar dan melihat banyak pepohonan di sekitar mereka, sinar matahari terlihat menyinari dunia ini. Dia segera menyadari jika berpindah ke tempat lain diatas permukaan.

"Keparat…" gumam Rira, mengatur napas. Ia harus mengeluarkan banyak kekuatan untuk membawa Leena ke tempat ini. Dia tidak punya pilihan lain, selain memudahkannya bekerjasama menyerang Leena, dia juga bisa melumpuhkan Leena sebelum Lynx datang menolong.

Rira mengangkat kedua tangannya, cahaya merah gelap melingkar di sekeliling tubuhnya. Ia merapal mantra lagi dengan cepat.

Seketika tubuh Leena kembali tak bisa digerakkan, kekuatan sihir Rira kembali membuat tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan. Ketiga rekan Rira langsung menyerbu, pedang dan sihir mereka terhunus, siap menghujani tubuh Leena dengan serangan bertubi-tubi.

Namun Leena bukan kultivator biasa, dia sudah di latih oleh Yan Ruyan dan diberikan kekuatan surgawi. Dalam sekejap, aura surgawi dari tubuhnya meledak. Sinar biru keemasan menembus belenggu sihir itu, memecahkan segel hanya dengan satu desahan napas.

"Rira, Sadarlah." Teriak Leena di aliri kekuatan qi. Leena berbalik cepat. Tubuhnya meliuk menghindari dua serangan pedang dan satu ledakan bola sihir. Dia menebas sekali, tajam dan akurat, namun tidak diarahkan ke tubuh musuh, hanya untuk menjauhkan mereka.

"Aku tidak bisa terus begini. Kerjasama mereka semakin kuat dan aku mulai terluka. Tapi aku tidak bisa menggunakan jurus jurus pamungkasku..." batinnya. "Aku tidak bisa melukai mereka. Aku harus mencari cara untuk menundukkan mereka tanpa melukainya."

Dia mulai menyerang lagi dengan gerakan biasa, tendangan, putaran pedang, tebasan setengah kekuatan, dan pertahanan spiritual yang menjaga tubuhnya tetap ringan dan gesit.

"Cepat! Dia sudah mulai tidak dapat bertahan. Kita harus segera menangkap dan membawanya ke Nyonya." Kata Rira dengan semangat. Meski mereka mengalami luka dalam, namun kekuatan dari Leena membuat mereka mampu bergerak dengan cepat. Dia yakin hanya masalah waktu sebelum akhirnya Leena berhasil dikalahkannya.

Sementara itu, jauh di bawah tanah, Lynx menatap langit-langit gua yang kini berguncang. Semua penduduk Surya dan para pasukan telah berhasil dipindahkan.

Tanpa pikir panjang, Lynx menjejakkan kakinya ke tanah. Dalam satu dorongan energi, tubuhnya meledak menembus batuan, tanah, dan bebatuan keras di atasnya. Dalam sekejap, ia melesat ke permukaan seperti meteor yang membelah langit.

"Leena!!"

Leena menoleh dan melihat sosok manusia menghantam tanah beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tanah bergetar, dan debu terangkat ke udara. Dari dalam kabut debu itu, muncul sosok Lynx yang berdiri tegak, jubahnya berkibar pelan, matanya bersinar dingin menatap keempat musuh yang mengelilingi Leena.

"Lynx..." gumam Leena lega, dia yakin semua penduduk Surya sudah di amankan. Kini mereka berdua bisa fokus menundukkan Rira dan rekan-rekannya.

Lynx mengangguk perlahan, tak menjawab. Matanya menyapu cepat, menganalisis kondisi pertarungan, kekuatan, dan situasi.

Namun Rira sudah berbicara duluan.

"Tiru kekuatan Lynx sekarang!" perintahnya pada ketiga rekannya.

Mereka segera membentuk formasi kecil, dan tanpa buang waktu, cermin sihir tak kasat mata kembali muncul di belakang mereka. Kali ini, bukan pantulan dari Leena yang terlihat, tapi kekuatan milik Lynx terpantul di cermin dan membuat replika energi di tubuh mereka berempat.

"Leena, Lynx, akan aku tunjukkan sekarang kemampuan kami. Nyonya seharusnya tidak perlu berusaha payah membuat rencana hanya untuk menundukkanmu." Kata Rira dengan mata bersinar tajam.

